Jadi 'Trader' Bukan Cara Baik Investasi Saham, Kenapa?
Di tahun ini, pasar saham Indonesia terimbas dari wabah Covid-19 di AS. Pada Maret lalu saja, Index Harga Saham Kombinasi (IHSG) jeblok ke tingkat paling rendahnya di range 3.900.
Dari status rendah itu membuat ketertarikan investor semakin semakin bertambah, mengakibatkan investor pemula yang semula tidak 'mau' tahu mengenai saham atau instrument beresiko yang lain tiba-tiba ingin ketahui.
Status IHSG paling rendah waktu itu, automatis harga-harga saham di masa itu telah terlalu murah, karena harga sahamnya sendiri jeblok karena wabah. Hal tersebut digunakan oleh investor untuk lakukan trading beberapa saham 'mumpung' murah, terhitung investor pemula.
Sekitar 51% investor di dunia yang berumur di bawah 34 tahun juga banyak mulai mengawali trading saham semenjak wabah serang dunia.
Tetapi, karena di masa Maret sampai Mei investor memandang arah rekondisi corona belum juga tahu, karena itu mereka masih condong lakukan trading periode pendek, intinya trading harian sampai mingguan.
Tetapi yang penting dicurigai, khususnya untuk investor pemula, dalam trading harian, tidak selamanya sukses memperoleh return positif, apa lagi ketika wabah.
"Banyak investor pemula yang tidak paham jika trading harian itu tidak selama-lamanya hasilkan return positif, satu ketika akan terjadi di mana mereka banyak yang lakukan cut loss, karena mereka tidak sabar dan ingin segera melepaskan sahamnya, karena sahamnya sendiri turun-turun terus", tutur Erick Roberge, Founder dari Beyond Your Hammock, Boston, diambil dari CNBC International
Tetapi, bagaimana triknya supaya anda tidak semacam itu
1. Tanya ke anda, kenapa saya lakukan ini
Dalam soal lakukan investasi, baik lewat penasihat keuangan, basis online trading, atau bahkan juga aplikasi yang memungkinkannya Anda pilih investasi Anda sendiri, selalu awali dengan menanyakan dalam diri sendiri kenapa Anda melakukan. Buat apa Anda melakukan investasi? Apa ini untuk keamanan keuangan periode panjang? Atau apa anda trading untuk cuman isi waktu luang?
Bagaimana juga langkah menanggapi pertanyaan di atas, hal itu bisa tentukan arah taktik investasi anda. Bila anda cari aman, buy atau sell satu saham sama waktu atau status yang cocok bukan jalan keluar yang akurat.
"Orang kembali banyak-banyaknya melakukan investasi di saham karena saat itu harga saham sedang murah-murahnya, karena harga turun pada masa Maret sampai sekitaran Juli-Agustus", hebat Roberge.
"Selanjutnya Oktober, beberapa orang yang sabar, sampai jual sahamnya di bulan-bulan saat ini kemungkinan keuntungannya semakin besar daripada mereka-mereka yang tidak sabar, jual sahamnya lebih dulu di masa April sampai Agustus".
Trading periode pendek membutuhkan factor peruntungan, sedang trading periode panjang tidak membutuhkan factor itu, cuman factor kesabaran yang bisa menghasilkan hasil lebih tentu.
Dari demikian jumlahnya investor pemula, cukup banyak yang terjerat 'faktor keberuntungan', hingga banyak pada mereka berasumsi jika trading periode pendek tidak hasilkan keuntungan, mereka memberi komentar 'belum rezekinya'.
Jadi dapat disebut, investasi di saham itu haruslah sabar, tidak boleh 'grasak-grusuk', tidak boleh bila harga sahamnya naik saat itu juga atau sukses sentuh sasaran price (TP) awalannya, langsung dipasarkan, walau sebenarnya bisa saja dari TP awalannya itu, satu saat dapat membuat TP ke-2 , ke-3 bahkan juga beberapa kalinya bila kita sabar.
Trading periode pendek memerlukan factor 'bejo', di mana factor itu di tiap orang berbeda, bila anda investor pemula, sekalian investor dengan tipe 'risk-averse' atau investor yang tidak berani ambil resiko besar, anda sebaiknya ambil trading periode panjang.
2. Kerjakan Diversifkasi
Anda ingin semakin aman dalam melakukan investasi? Selainnya trading periode panjang, hal yang lain yang pantas anda lihat ialah bagaimana management investasi anda?, sudahkah anda mengatur sebegitu rupa portofolio investasi anda?
Pada akhirannya, Anda ingin pastikan jika Anda mempunyai kombinasi investasi yang baik pada portofolio anda. Hal fundamental ialah anda tidak mau semua uang anda diinvestasikan pada tempat yang serupa.
Langkah supaya portofolio investasi anda tersusun rapi ialah bila anda investasi di saham, seharusnya investasi tidak boleh di satu perusahaan, tidak perlu beli banyak lot, 1 lot saham saja cukup jika 1 lot saham itu memerlukan dana yang semakin banyak sedikit.
Misalnya harga saham itu Rp 1.000, karena itu anda harus mempersiapkan dana Rp 100.000, bila anda memiliki dana Rp 500.000, karena itu anda tidak boleh investasikan semua dananya ke satu saham itu, tetapi dipisah dua saham yang lain.
Bila ingin aman kembali, upayakan ke-2 saham itu ialah saham di bidang yang lain, misalnya anda membagikan saham A dan B, bila saham A ada di bidang property, karena itu saham B tidak boleh di bidang yang serupa, cari saham di bidang yang arahnya condong kebalikannya dengan bidang keuangan, misalnya di bidang barang konsumsi, atau yang lain.
Itu kenapa trading periode pendek (harian) tidak dianjurkan untuk investor pemula, karena bila ingin memperoleh return dari trading secara harian, perlu kemampuan khusus dan tentu saja factor 'bejo' yang kuat.
Bila anda investor pemula yang investor type risk averse, karena itu seharusnya lakukan trading periode panjang. Tetapi bila anda type investor yang risk taker, kemungkinan tidak ada apa-apa untuk dicoba trading sehari-hari, tapi keputusan investasi, anda sendiri yang tentukan.